Jumat, 17 April 2015

Shutter Speed dan Aperture

Shutter speed atau kecepatan rana merupakan kecepatan terbukanya jendela kamera sehingga cahaya dapat masuk ke dalam image sensor. Satuan daripada shutter speed adalah detik, dan sangat tergantung dengan keadaan cahaya saat pemotretan. Semisal cahaya terang pada siang hari, maka shutter speed harus disesuaikan menjadi lebih cepat, semisal 1/500 detik. Sedangkan untuk malam hari yang cahayanya lebih sedikit, maka shutter speed harus disesuaikan menjadi lebih lama, semisal 1/5 detik. Hal ini sekaligus menjelaskan mengapa foto pada malam hari cenderung buram, bahwa shutter speed yang lebih lambat memungkinkan pergerakan kamera akibat getaran tangan menjadikan cahaya bergeser sehingga foto menjadi buram / blur.

Aperture atau diafragma merupakan istilah untuk bukaan lensa. Apabila diibaratkan sebagai jendela, maka diafragma adalah kiray / gordyn yang dapat dibuka atau ditutup untuk menyesuaikan banyaknya cahaya yang masuk. Pada kamera aperture dilambangkan dengan huruf F kecil dan dengan satuan sebagai berikut:

f/1.2
f/1.4
f/1.8
f/2.0
f/2.8
f/3.5
f/4.0
dst...


Semakin kecil angka satuan maka akan semakin besar bukaan lensa (f/1.4 lebih besar bukaannya dibandingkan dengan f/4.0, f/2,8 lebih besar bukaannya dibandingkan dengan f/16).



Gambar Aperture pada lensa

Berbagai Macam-macam lensa Kamer DSLR


  • Lensa Standar. Lensa ini disebut juga lensa normal. Berukuran 50 mm dan memberikan karakter bidikan natural.
  • Lensa Sudut-Lebar (Wide Angle Lens). Lensa jenis ini dapat digunakan untuk menangkap subjek yang luas dalam ruang sempit. Karakter lensa ini adalah membuat subjek lebih kecil daripada ukuran sebenarnya. Dengan menggunakan lensa jenis ini, di dalam ruangan kita dapat memotret lebih banyak orang yang berjejer jika dibandingkan dengan lensa standar. Semakin pendek jarak fokusnya, maka semakin lebar pandangannya. Ukuran lensa ini beragan mulai dari 17 mm, 24 mm, 28 mm, dan 35 mm.
  • Lensa Fish Eye. Lensa fish eye adalah lensa wide angle dengan diameter 14 mm, 15 mm, dan 16 mm. Lensa ini memberikan pandangan 180 derajat. Gambar yang dihasilkan melengkung.
  • Lensa TeleLensa tele merupakan kebalikan lensa wide angle. Fungsi lensa ini adalah untuk mendekatkan subjek, namun mempersempit sudut pandang. Yang termasuk lensa tele adalah lensa berukuran 70 mm ke atas. Karena sudut pandangannya sempit, lensa tele akan mengaburkan lapangan sekitarnya. Namun hal ini tidak menjadi masalah karena lensa tele memang digunakan untuk mendekatkan pandangan dan memfokuskan pada subjek tertentu.
  • Lensa Zoom. Merupakan gabungan antara lensa tandar, lensa wide angle, dan lesa tele. Ukuran lensa tidak fixed, misalnya 80-200 mm. Lensa ini cukup fleksibel dan memiliki range lensa ang cukup lebar. Oleh karena itu lensa zoom banyak digunakan, sebab pemakai tinggal memutar ukuran lensa sesuai dengan yang dibutuhkan.
  • Lensa Makro. Lensa makro biasa digunakan untuk memotret benda yang kecil.

Lensa Kamera DSLR

Dalam fotografi, lensa berfungsi untuk memokuskan cahaya hingga mampu membakar medium penangkap (film). Di bagian luar lensa  biasanya terdapat tiga cincin, yaitu cincin panjang fokus (untuk lensa  jenis variabel), cincin diafragma, dan cincin fokus.


PANJANG LENSA

Panjang lensa  biasa disebut Focal Length

Panjang lensa mempengaruhi:
a. JARAK pemotretan
b. SUDUT pandang
c. PEMBESARAN
d. FASILITAS BUKAAN DIAFRAGMA

Lensa Khusus:
a. Lensa Makro (biasa disebut Macro Lens)
b. Penambahan panjang lensa (biasa disebut Tele Converter atau Extender)
c. Lensa pengoreksian perspektif pada subjek
d. Lensa Lunak (biasa disebut Soft Focus Lens)

Dunia Fotografi

A. Fotografi

Fotografi ( Photography ) berasal dari kata Photo (Cahaya) dan Grafo ( menulis / menggambar ), sehingga dapat diartikan bahwa fotografi adalah suatu teknik menggambar dengan cahaya. Atas dasar tersebut, jelas bahwa cahaya sangat berperan penting dan menjadi sumber utama dalam memperoleh gambar (tanpa cahaya tidak akan ada hasil foto).


B. Kamera SLR

Kamera SLR ( Single Lens Reflex ) atau Kamera D-SLR ( Digital ) merupakan kamera dengan jendela bidik (Viewfinder) yang memberikan gambar sesuai dengan sudut pandang lensa melalui pantulan cermin yang terletak di belakang lensa.   Pada umumnya kamera biasa memiliki tampilan dari jendela bidik yang berbeda dengan sudut pandang lensa  karena jendela bidik tidak berada segaris dengan sudut pandang lensa .

Fotografi berkaitan erat dengan cahaya (jadi untuk menghasilkan sebuah foto diperlukan adanya cahaya, tanpa ada cahaya maka tidak akan ada foto), maka kamera berfungsi untuk mengatur cahaya yang ditangkap image sensor ( sensor gambar pada kamera digital atau film pada kamera konvensional ). Untuk mengatur cahaya, terdapat 2 hal mendasar dalam kamera, yakni Shutter Speed (Kecepatan Rana) dan Aperture (Diafragma).

C. Lensa

Dalam fotografi, lensa berfungsi untuk memokuskan cahaya hingga mampu membakar medium penangkap (film). Di bagian luar lensa  biasanya terdapat tiga cincin, yaitu cincin panjang fokus (untuk lensa  jenis variabel), cincin diafragma, dan cincin fokus.

Kamis, 16 April 2015

Nilai-nilai Keislaman Diharapkan Bisa Diimplementasikan dalam Proses Perkuliahan

Image
Salah satu yang menjadi keunggulan rencana strategis Universitas Islam Indonesia (UII) pada periode ini adalah keunggulan nilai-nilai keislaman, aspek inilah yang kemudian dikembangkan dalam berbagai implementasi nyata sebagai pedoman dalam rangka mencapai visi UII menjadi rahmatan lil alamin.
Implementasi kegiatan-kegiatan untuk mendukung upaya tersebut selama ini dilakukan oleh Direktorat Pendidikan dan Pengembangan Agama Islam (DPPAI) UII melalui Orientasi Nilai Dasar Islam (ONDI), Latihan Kepemimpinan Islam Dasar (LKID), Pesantrenisasi, Pesantrenisasi Pra-KKN, Baca Tulis Al-Qur’an (BTAQ), Seminar Keislaman dan lain-lain.
Selain kegiatan-kegiatan diatas, dalam rangka implementasi keunggulan nilai-nilai Keislaman, hari ini (15/4) DPPAI UII juga menyelenggarakan acara “Diskusi Internalisasi Nilai-nilai Keislaman dalam Proses Pembelajaran” bertempat di Ruang sidang II Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UII.
Tampak hadir dalam acara diskusi tersebut Rektor UII Dr. Ir. Harsoyo, M.Sc., Dekan FMIPA Drs. Alwar, M.Sc., Ph.D., dan mewakili Direktur DPPAI Jamaluddin Ghofur, SH., MH., dan mengundang pemateri yaitu Rudy Syah Putra S.Si., M.Si., Ph.D., dan dr. Agus Taufiqurrahman, M.Kes., Sp.S.
Harsoyo menyampaikan harapannya terhadap dosen-dosen agar mampu mengimplementasikan nilai-nilai Keislaman dengan baik, termasuk juga dalam proses perkuliahan dengan mahasiswa, paling tidak disetiap pertemuan perlu disisipkan nilai-nilai mengenai kejujuran, integritas, dan amanah.
Ditambahkan oleh Alwar bahwa selama ini pihaknya juga berupaya untuk mengimplementasikan muatan-muatan Keislaman yang terintegrasi dengan kurikulum,  dan tidak hanya sebatas pada proses pembelajarannya saja.
Kemudian diskusi dilanjutkan dengan pemaparan dari pemateri yang masing-masing menjelaskan proses pembelajaran yang memuat nilai-nilai Islam dan pengelaman implementasi tersebut di Fakultas Kedokteran UII.

Tim UII Lawan Tim PWI Meriahkan Liga Super UII

Image
Setelah sebelumnya berjumpa di pertandingan futsal UII, Tim UII yang terdiri dari dosen dan karyawan kembali dipertemukan dengan Tim PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) dalam even pertandingan berbeda. Kali ini kedua tim bertemu dan berlaga dalam gelaran Liga Super UII yang berlangsung di lapangan kampus terpadu UII, Kamis sore (16/4). Pertandingan ini dilangsungkan guna memeriahkan Liga Super UII yang telah dimulai sejak 9 April 2015 serta menyemarakkan Milad UII ke-72. Pertandingan juga semakin mempererat silaturrahmi di antara UII dan PWI yang telah lama terjalin.
Jika pada pertandingan futsal, tim UII mampu tampil lebih unggul, pada pertandingan di lapangan besar tim PWI ternyata mampu menunjukkan performa yang lebih baik. Pertandingan ini diakhiri dengan keunggulan tim PWI yang berhasil menyarangkan 3 gol ke sarang gawang tim UII. Sementara tim UII harus berpuas diri hanya dengan membalas 1 gol ke gawang tim PWI.    
Jalannya pertandingan berlangsung menarik di mana kedua tim berupaya saling serang ketika memiliki kesempatan. Tim PWI lebih dulu unggul di awal pertandingan dengan satu gol. Tidak lama berselang, tim PWI kembali menggandakan keunggulan menjelang berakhirnya babak pertama. Total dua gol disarangkan ke gawang tim UII hingga berakhirnya babak pertama.
Sementara pada babak kedua, tim UII sebenarnya juga berusaha menciptakan peluang-peluang namun sayangnya selalu kandas. Justru karena asyik menyerang, tim UII kembali kebobolan oleh aksi serangan balik tim PWI. Menjelang berakhirnya babak kedua barulah peluang tim UII berbuah gol yang dicetak oleh Hairul Muslimna. Di akhir pertandingan, kedudukan 3-1 tetap bertahan sehingga tim PWI unggul. Gol tim PWI masing-masing dicetak oleh Agung Basuki, Yayan, dan Heri Timbul.

Dokter Diminta Kedepankan Aspek Promotif dan Preventif dalam Pelayanan Kesehatan

ImageMenjelang diimplementasikannya secara penuh era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), pemerintah menargetkan keluhan kesehatan masyarakat sebagian besar dapat diselesaikan di tingkat primer. Hal ini bertujuan agar pelayanan kesehatan dapat bersifat lebih merata dan dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat. Untuk menunjang keberhasilan program tersebut, peran dokter yang menyediakan pelayanan kesehatan primer dinilai akan semakin penting. Dalam memberikan pelayanan kesehatan, dokter juga diharapkan dapat mengedepankan aspek promotif dan preventif sehingga beban anggaran kesehatan kuratif pun dapat semakin mengecil.  
Hal ini disampaikan oleh Wakil Rektor III UII, Dr. Abdul Jamil, SH, MH ketika menyampaikan sambutan dalam acara Pelantikan dan Sumpah Dokter UII Periode XXVIII Tahun 2015. Acara yang berlangsung di Auditorium Kahar Muzakkir, kampus terpadu UII, Rabu (15/4) diikuti oleh 29 dokter baru UII. Sebagian besar dokter yang mengikuti prosesi sumpah adalah dokter perempuan dengan jumlah 19 orang, sedangkan 10 orang lainnya merupakan dokter laki-laki. Hal ini semakin menguatkan tradisi di mana pada setiap prosesi pengambilan sumpah, jumlah dokter perempuan selalu lebih dominan.
Disampaikan Dr. Abdul Jamil bahwa kebutuhan pelayanan kesehatan primer di masyarakat sebenarnya cukup mendesak. “Jika kita mengacu pada fakta bahwa dari 1.000 populasi di masyarakat Indonesia, 750 populasi orang dewasa melaporkan pernah mengalami kesakitan, sementara hanya 250 yang memenuhi layanan kesehatan yang memadai”, imbuhnya. Ia juga berpesan, eksistensi para dokter sejatinya tidak sekedar mengobati pasien namun juga memberi edukasi kepada masyarakat tentang gaya hidup sehat.
Sementara itu, Bendahara IDI Wilayah DIY dr. Siti Aisyah Salam, SU, M.Kes menambahkan agar para dokter baru hendaknya terus mengasah kompetensinya agar tidak gagap dalam menghadapi dinamika dan tantangan profesi ke depan. “Dalam waktu dekat kita akan masuk era pasar bebas ASEAN, belum lagi program pemerintah dalam skema JKN juga menuntut peran dokter yang optimal”, terangnya.
 Pelayanan kedokteran yang dijalankan di era ini adalah pelayanan kesehatan yang berbasis pada kebutuhan masyarakat sehingga dokter harus menjalin komunikasi yang baik dengan pihak-pihak lain yang terlibat dalam program ini.
Dekan Fakultas Kedokteran UII, dr. Linda Rosita, M.Kes, Sp.PK juga mengingatkan pentingnya para dokter baru untuk pandai-pandai menjalin komunikasi dengan pasien dan keluarganya. “Komunikasi adalah kunci penting untuk membentengi saudara dari risiko kesalahpahaman yang berujung pada tuduhan malpraktik. Sampaikan dengan benar dan jujur tentang kondisi pasien serta penanganan medis apa yang akan diambil beserta risikonya”, ungkap dr. Linda.
Ia yakin keberadaan para dokter baru UII ini akan memberikan kontribusi positif di tengah masyarakat karena selama ini mereka memang dididik untuk mengemban misi rahmatan lil alamin.