Dalam pergaulan internasional di tingkat global, penguasaan terhadap ilmu, sains, dan teknologi menjadi penting bagi bangsa-bangsa di dunia, tak terkecuali umat Islam. Sebab dengan hal itu, sebuah bangsa akan dihargai dan diperhitungkan di kancah internasional. Tidak hanya itu, pemahaman atas sains dan teknologi juga membuat sebuah bangsa dapat turut mewarnai dan membentuk peradaban umat manusia.
Islam sebagai sebuah identitas kolektif pada masa silam sebenarnya sering mendapat kredit sebagai umat yang banyak memberikan kontribusi bagi peradaban manusia dengan inovasi dan pencapaian ilmu pengetahuan yang diraih oleh para ahlinya. Namun saat ini justru umat Islam terkesan paling tertinggal di antara bangsa-bangsa lain dalam hal itu. Ketertinggalan umat Islam ini salah satunya disebabkan karena umat kehilangan kepercayaan dirinya untuk menggali kembali tradisi berpikir dan keilmuan yang dulu mengakar kuat dalam peradaban Islam.
Hal ini disampaikan oleh Dr. Supriyanto Pasir, M.Ag ketika memberikan keynote speech dalam acara diskusi yang mengangkat tema tentang Tradisi dan Peradaban Keilmuan dalam Islam. Diskusi diikuti oleh berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, aktivis Islam, hingga para santri dari Pondok Pesantren Gontor dan berlangsung di Gedung Prof. Dr. Sardjito, kampus terpadu UII, Ahad (22/2). Lewat diskusi ini diharapkan terbangun kesepahaman berpikir untuk bersama-sama mengangkat kepercayaan diri umat dalam membangun tradisi keilmuan.
“Saat ini kita cenderung terjebak dalam dikotomi yang memisahkan antara ilmu umum dan ilmu agama. Patut diingat bahwa umat Islam di masa lalu tidak mengenal dikotomi semacam itu. Ini berasal dari Barat yang memang punya sejarah konflik antara agama dan pengembangan sains”, terangnya. Kejujuran para ahli hadits dalam merawikan hadits merupakan bukti bahwa integritas akademik sangat dijunjung oleh umat Islam di masa lampau.
Supriyanto Pasir menilai umat Islam harusnya tidak alergi dalam mempelajari metode dan cara berpikir berbagai keilmuan yang berasal dari Barat. “Ini adalah strategi, jika kita ingin membangun kembali maka harus paham dulu bagaimana cara mereka berpikir. Selanjutnya kita gunakan untuk mengkritisi pemikiran mereka”, jelasnya.
Direktur DPPAI UII, Dr. Muntoha, M.Ag mengatakan peran ulama dan intelektual muslim sangat vital dalam menuntun dan mengarahkan umat untuk kembali mencintai ilmu. “Yang saya sayangkan, ulama jangan terlibat dalam politik praktis di negeri ini karena hal itu justru mendegradasikan kedudukan mereka sebagai pengayom umat”, tegasnya. Kepada para peserta, ia juga mengajak keterlibatan mereka, khususnya para pemuda untuk belajar dengan sungguh-sungguh di bidang ilmunya masing-masing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar